Hal-Hal / Persepsi Yang Tidak Boleh Dilakukan Dalam Melakukan Inovasi dalam Pendidikan

Inovasi merupakan sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan suatu hal yang baru agar dapat lebih efektif dan mencapai hasil yang lebih baik dalam suatu kegiatan. Inovasi dapat tercipta dari membuat sesuatu yang sebelumnya belum pernah ada ataupun melakukan modifikasi terhadap yang sudah ada

Dalam dunia pendidikan inovasi sangat penting dan berdampak dalam pencapaian tujuan. Banyaknya inovasi yang telah dilakukan secara langsung maupun tidak telah memberikan perubahan dalam pendidikan. Terutama dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat pesat menjadikan banyak inovasi yang dilakukan dalam bidang pendidikan yang berbasis teknologi.

Hampir semua hal dalam pendidikan dapat dilakukan inovasi. Strategi pembelajaran, cara mengajar, media pembelajaran, hingga evaluasi pembelajaran dan bahkan sistem pendidikan dapat selalu dilakukan inovasi agar tujuan pembelajaran dan pendidikan dapat dicapai dengan baik untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Para pelaku pendidikan itu sendiri yang harus menciptakan dan menerapkan inovasi-inovasi yang mampu memberikan pengaruh positif terhadap pencapaian tujuan.

Menciptakan Inovasi dalam Bidang Pendidikan

Namun untuk dapat tercapainya inovasi dalam pendidikan yang baik, maka ada beberapa kondisi atau anggapan yang jangan dilakukan atau perlu dihindari. Dalam bukunya Tilaar (1998:365) menyebut ada beberapa hal atau persepsi yang tidak boleh kita perbuat dalam melaksanakan inovasi dalam pendidikan antara lain:

  • Jangan bersikap yang paling pintar artinya inovasi tidak akan terjadi apabila kita menganggap diri kita yang paling pintar, yang paling berhak untuk mengadakan perubahan
  • Jangan membuat terlalu banyak sekaligus. Mulai dari yang kecil terlebih dahulu sebagai awal untuk inovasi bagi hal-hal besar. Mulai dari hal sederhana yang biasanya berakar dalam kebutuhan nyata dari kebutuhan masyarakat untuk sesuatu yang lebih baik.
  • Inovasi jangan mempunyai harapan yang muluk untuk mengubah masa depan. Mulai dari kondisi yang ada untuk diubah.

Jika melakukan hal-hal diatas dalam proses inovasi bisa jadi justru menjadikan inovasi yang dilakukan tidak bermanfaat untuk pendidikan, memberikan pengaruh negatif dan menghambat pencapaian tujuan. Anggapan bersikap paling pintar akan membuat tidak mau menerima saran dan kritik dari orang lain yang mungkin bisa membangun inovasi menjadi lebih baik lagi.

Produksi dan penerapan terhadap inovasi juga harusnya diterapkan secara bertahap. Jangan langsung diproduksi banyak dan diterapkan secara massal. Mulai dari sekitar yang bisa diterapkan sebagai pengujian. Contoh kecil saja seorang guru mampu menemukan alat peraga baru dan ingin dikomersilkan, terapkan dulu pada siswa yang diajar dan jika hasilnya bagus share pada beberapa rekan guru lain, jika baik juga hasilnya baru dapat diproduksi secara masif tentunya dengan pengujian ulang yang layak agar memang benar-benar dapat memberikan pengaruh baik pada pembelajaran.

Sangat bagus memang ketika memiliki anggapan dan visi bahwa inovasi yang dilakukan mampu mengubah pembelajaran dan pendidikan secara umum ke arah yang lebih baik. Namun inovasi yang ditemukan dan diterapkan pada suatu kondisi belum tentu berhasil jika diterapkan dalam kondisi lain. Untuk itu mulai dari kondisi yang ada terlebih dahulu, jika sudah membaik, baru memikirkan bagaimana inovasi untuk masa depan karena kondisi yang sekarang inilah yang menentukan bagaimana masa depan nantinya.


Referensi:
Tilaar, HAR. 1998. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia
The following two tabs change content below.

Syaiful Imran

Multiple Personality. :p Penulis (Author) di Ilmu-Pendidikan.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 3 =