Tingkat Tahapan Intelektual Anak
Masa anak-anak merupakan masa dimana manusia mengalami perkembangan yang signifikan. Terutama pada aspek intelektual, masa anak-anak menjadi waktu yang paling banyak belajar dan mengenal berbagai macam hal-hal untuk direkam dalam memorinya. Tak hanya itu, masa anak-anak juga merupakan masa pembentukan sikap dan tingkah laku yang berguna dan sangat mempengaruhi pada masa selanjutnya.
Pentingnya masa kanak-kanak ini harus disadari dan diperhatikan terutama oleh orang tua. Orang tua harus memiliki kesadaran untuk memberikan apapun yang terbaik terutama bimbingan pada anak sehingga anak mendapatkan pembelajaran yang baik sebagai modal untuk masa depan mereka. Peranan orang tua jelas menjadi yang paling utama dalam menentukan perkembangan anak disini.
Menyangkut pada aspek intelektual, pembelajaran dan jenjang pendidikan pada anak-anak perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia anak. Hal ini sangat perlu karena kemampuan perkembangan anak juga berbeda-beda sesuai usianya. Anak Taman Kanak-Kanak (TK) usia 4-6 tahun tentu berbebeda tingkat perkembangan intelektualnya dengan anak usia sekolah dasar (SD). Untuk itulah apa yang diberikan perlu disesuaikan dengan tingkat tahapan intelektualnya.
Jean Piaget dalam Sudono (2000: 3) membagi tingkat tahapan intelektual anak menjadi 4 tahapan masa, yaitu:
Rentang |
Tahapan |
0 – 2 |
Masa Sensorimotor |
2 – 7 |
Masa Pra-Operasional |
7 – 11 |
Konkrit Operasional |
11 – 14 |
Formal Operasional |
Pada masa pertama dan kedua anak-anak akan membutuhkan peranan dari alat panca indera yang sangat besar. Panca indera akan memproses apa yang ditangkap bersama dengan pengetahuan yang dimiliki (schemata-schemata, asimilasi, akomodasi, dan konservasi).
Pada usia awal ini kegiatan bermain sangat memudahkan anak dalam mengetahui sesuatu. Maka sangat penting menggabungkan kegiatan bermain dengan belajar agar anak dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki.
Dengan mengetahui tahapan intelektual pada anak ini kita dapat merencanakan dengan baik sistem pembelajaran maupun perlakuan yang tepat kepada anak sesuai dengan usia anak yang disesuaikan dengan kemampuan intelektual anak. Manfaatnya tentu saja agar anak dapat secara efektif mendaya gunakan semua kemampuannya. Dengan perencanaan yang baik maka anak akan dapat memaksimalkan kemampuannya dan dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sehingga dapat memanfaatkan potensi yang dimiliki.
Referensi:
Sudono, Anggani. 2000. Sumber Belajar dan Alat Permainan. Jakarta: Grasindo
Artikel Terkait
Syaiful Imran
Latest posts by Syaiful Imran (see all)
- Posisi atau Kedudukan Kurikulum dalam Pendidikan - Kamis, 30 Maret 2023
- Isu Pendidikan Nasional Yang Perlu Direkonstruksi Dalam Rangka Otonomi Daerah - Senin, 03 Mei 2021
- Implikasi Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Terhadap Kebijakan Strategis Pendidikan Nasional - Kamis, 15 April 2021
- Status Guru dan Dosen dalam Pendidikan Formal - Kamis, 18 Maret 2021
- Isu-Isu Strategis Terkait Masalah Pendidikan Yang Muncul di Indonesia - Jumat, 11 Desember 2020